- Diposting oleh : Lptq Sumut
- pada tanggal : September 24, 2026
Prof. Azhari Akmal Tarigan
Pengurus LPTQ Sumatera Utara
MTQN XXXI telah usai dan ditutup secara resmi oleh Menteri Agama RI, Prof. Nasaruddin Umar. Kendati demikian, kesan MTQN yang berpusat di Simpang Lima tidak akan pernah berakhir. Bahkan sampai sekarang ini pun cuplikan penampilan Qori dan Qori’ah berkualitas tinggi masih bisa kita saksikan di berbagai platform media sosial. Tidak berlebihan jika dikatakan, MTQN XXXI di Semarang sukses besar, baik dari sisi penyelenggaraannya ataupun dari sisi kualitasnya.
Tentu tidak ada yang sempurna. Tak ada gading yang tak retak. Beberapa catatan kritis perlu diberikan, terlebih untuk pelaksanaan cabang-cabang tertentu. Sebut saja cabang Fahmil Qur’an yang masih bermasalah. Cabang KTIQ yang sampai saat ini masih “misteri”. Demikian juga halnya dengan cabang Kaligrafi yang pengawasannya terkesan longgar. Untuk cabang-cabang yang disebut ini memang perlu terus untuk disempurnakan. Namun, tetap saja dari sisi pelaksanaan, Pemda Jawa Tengah dan Pemko Semarang beserta perangkat-perangkatnya sangat layak diapresiasi dengan dua jempol bahkan lebih. Tulisan singkat ini tidak menyoroti catatan pada cabang MTQ, namun lebih pada penyelenggaraannya.
Menjadi panitia pelaksana maknanya sama menjadi pelayan. Dalam bahasa Arab, melayani ini disebut Khidmah dan orangnya disebut khadim. Pelayan dua tanah suci disebut khadim al-haramain. Agaknya bagi Raja Saudi tidak ada gelar yang paling agung mereka terima melainkan sebagai pelayan dua tanah suci, Masjid Al-Nabawi di Madinah dan juga Masjid Al-Haramain di Makkah. Sejak dahulu sebelum Arab mengenal negara modern, menjadi pelayan adalah sebuah kebanggaan. Ada yang bertugas pemegang kunci Ka’bah dan ada juga yang berperan sebagai penyedia air minum dan tugas-tugas pelayanan lainnya. Tanpa bermaksud mempersamakannya dengan khadim al-haramain al-syarifain, menjadi Panitia MTQN itu sesungguhnya maknanya sama dengan melayani para pembaca dan penghafal Al-Qur’an (Qurra wa al-Huffazh), melayani para mufassir, penulis, pengkaji dan pekerja seni kaligrafi. Tentu tak sama melayani artis, tidak sama juga melayani atlet sepakbola dan lainnya.
Agaknya Panitia yang terdiri Pemda Jawa Tengah dan Pemko Semarang dan seluruh Masyarakat Semarang sangat menyadari arti penting melayani penjaga-penjaga Al-Qur’an. Dari perspektif Manajemen Bisnis, Panitia telah menerapkan standar pelayanan prima. Pelayanan prima itu adalah memberi pelayanan terbaik kepada Masyarakat atau pelanggan atau pengguna jasa dengan cara-cara yang tidak saja baik tetapi juga sangat baik. Karena itulah ia disebut prima. Secara teoritis, pelayanan prima mencakup “4 A” yang terdiri dari attitude (sikap dan Tindakan). Hal ini terkait bagaimana membangun relasi dan komunikasi. Gerak, gestur dan Bahasa tubuh yang bersahabat yang membuat orang lain merasa nyaman. Kemudian attention atau perhatian. Ini adalah Tindakan membaca keinginan Masyarakat atau memahami kehendak mereka, baik dengan cara mempertanyakannya ataupun dengan memahami kultur dan budaya mereka sebelum berinteraksi. Ketiga, Action atau tindakan nyata. Unsur yang ketiga ini menjadi inti. Sikap yang baik, perhatian yang penuh tanpa Tindakan nyata, semuanya akan menjelma menjadi basa-basi. Justru kuncinya adalah bagaimana Tindakan melayani itu dilakukan. Menjawab kebutuhan-kebutuhan peserta dan memudahkan hal-hal yang mereka butuhkan. Sedangkan yang terakhir adalah antisipasi. Untuk sebuah perhelatan besar, seperti event nasional, MTQN, maka tidak selamanya apa yang telah direncanakan akan berjalan baik. Tentu ada saatnya terjadi penyimpangan, di luar perkiraan bahkan rencana yang gagal. Ini wajar saja. Masalahnya adalah bagaimana panitia melakukan antisipasi. Sebut saja misalnya Listrik yang padam. Air yang macet. Microfon yang trouble dan lain sebagainya. Ini wajar saja ada masalah kendatipun sebelumnya kita sudah mempersiapkannya sedemikian rupa. Yang penting dalam konteks pelayanan prima adalah sejauh mana mitigasi risiko dan antisipasinya disiapkan.
Dengan menggunakan “4 A” sebagai indikator sederhana pelayanan prima, Pemko Semarang dan Pemda Jawa Tengah telah berada pada level pelayanan prima yang melampaui. Sekali lagi hal ini tidak menafikan ada catatan. Wajar saja karena mereka melayani ribuan peserta dan Masyarakat dari berbagai provinsi di seluruh Indonesia. Seperti yang telah dinyatakan, tidak ada yang sempurna dan yang sempurna hanya Allah SWT.
Khusus kafilah Sumatera Utara yang dilayani secara khusus oleh Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Jawa Tengah, pelayanan prima yang Melampaui itu benar-benar dapat dirasakan. Saya harus menyebut nama mereka yang luar biasa dan total mengawal kafilah Sumatera Utara, ada Mas Kevin, Mbak Nadia, Mas Ghafur dan beberapa nama lainnya. Mereka adalah nama-nama yang amat menentukan keberhasilan kafilah Sumatera Utara. Bahkan mereka telah menjadi bagian dari Kafilah Sumatera Utara yang juga berjuang bagaimana kafilah Sumut ini berhasil.
Tidaklah berlebihan jika Ketua Harian LPTQ Sumatera Utara, H. Muhammad Yasir Tanjung, berani mengatakan, jika Sumut Masuk 4 besar, apresiasi kepada LO akan diberikan dalam bentuk hadiah kunjungan ke Sumatera Utara dan Danau Toba secara khusus. Sayangnya Sumatera Utara tanpa mengurangi rasa Syukur yang besar kepada Allah SWT, Sumut berada di 5 besar. Ketika ditanyakan kepada peserta, apakah ada catatan kepada LO, seluruh peserta menyatakan tidak ada. Demikian juga official dan pelatih. Justru peserta dan official yang menyampaikan permohonan ma’af jika ada yang kurang berkenan. Kelemahan orang Sumut umumnya dan Medan khususnya, di manapun berada tetap saja ia merasa itu adalah kampungnya. Makna positifnya kita mudah berbaur dengan siapa saja. Tapi terkadang kita lupa ada tradisi dan Bahasa yang berbeda. Terkadang membuat orang lain tersinggung. Dengan kerendahan hati kita menyampaikan permohonan maaf yang tinggi kepada Masyarakat Jawa Tengah dan LO Khususnya.
Adalah benar Ketika Sekretaris BKD Jateng dan Timnya menyatakan, mereka berbahagia karena mendapatkan apa yang disebut dengan zero complain. Begitu mereka menerima kafilah Sumut di Bandar dan demikian juga mereka lepas kafilah Sumut juga di Bandara sembari melantunkan do’a-do’a keselamatan. Ketua H. Muhammad Yasir Tanjung sangat benar Ketika berkata, hubungan Sumut dan Jateng terjalin kuat bukan saja disebabkan Gubernur Sumut keluarga besar Jawa Tengah tetapi juga semakin kuat karena diikat oleh nilai-nilai MTQN XXXI Semarang.
Terlepas dari itu semua, Jawa Tengah dan khususnya Semarang telah menunjukkan dirinya sebagai tuan rumah yang baik. Guru saya pernah mengatakan, Ikhlas tidak pernah terlihat. Ketulusan juga tidak pernah terlihat. Jika ia terlihat kemungkinannya ada dua. Asli dan palsu. Tapi keikhlasan dan ketulusan itu dapat dirasakan. Dan itulah yang kita rasakan, seluruh kafilah Sumatera Utara.
MTQN XXXI boleh berakhir. Kenangan manis tetapi akan tinggal di dalam kesadaran batin semua peserta dan kafilah. Semoga tuan rumah DKI Jakarta pada MTQN XXXII yang akan datang dapat mencontoh dan bahkan menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Terima kasih Jawa Tengah dan Terima kasih Semarang.
