Skip to Content
Loading...
lptqsumut
lptqsumut
Online
Assalamu'alaikum Wr. Wb. 👋
Ada yang bisa dibantu?

Tiga Pesan Gubernur M. Bobby Afif Nasution untuk LPTQ Sumatera Utara



Prof. Azhari Akmal Tarigan

(Pengurus LPTQ Sumatera Utara) 

Suaranya datar, tenang dan tidak meledak-ledak. Kendati ditangannya ada konsep pidato yang disiapkan oleh Tim, sepertinya ia tak membacanya. Beliau cenderung berbicara tentang sesuatu yang dipandangnya urgent. Sesuatu yang muncul dari hatinya yang terdalam. Ia memiliki permintaan sekaligus harapan. Itulah model pidato Gubernur Sumatera Utara, Bapak Muhammad Boby Afif Nasution. Agaknya itu pula model komunikasi politiknya. Bukan saja saat ini sebagai Gubsu, tetapi begitu juga ketika masih menjadi Wali Kota Medan. 

Di dalam pidatonya tanpa teks itu, baik sewaktu Pelantikan Pengurus LPTQ SU (2026-2030) dan juga pelantikan Dewan Hakim MTQ (14 Juni 2026), demikian pula halnya pada saat pembukaan MTQ Sumatera Utara ke 40 (15 Juni 2026) , gagasan, pemikiran, tentu saja harapan untuk masyarakat Sumatera Utara khususnya LPTQ Sumatera Utara telah ia sampaikan. Dalam catatan penulis, setidaknya ada tiga pesan penting untuk kita baca ulang. 

Pesan pertama, Gubsu menekankan bahwa Al-Qur’an bukan hanya untuk dimusabaqahkan atau diperlombakan, tetapi juga harus dimasyarakatkan. Al-Qur’an harus hadir dalam kehidupan masyarakat bukan hanya hadir di mimbar-mimbar tilawah. Gagasan ini jika ditelusuri lebih jauh sangat terkait dengan literasi umat Islam Sumatera Utara terhadap Al-Qur’an.

Sampai saat ini, saya belum membaca riset terkait tingkat literasi umat Islam Sumatera Utara terhadap Al-Qur’an; berapa jumlah penduduk yang melek terhadap Al-Qur’an, memiliki kemampuan dasar untuk baca tulis Al-Qur’an. Dari sinilah muncul gagasan Gubernur yang kemudian diartikulasikan Ketua Harian LPTQ Sumatera Utara, Ustadz M. Yasir Tanjung, tentang "Satu Dusun atau Satu Desa satu Guru Al-Qur’an". 

Memang, untuk mewujudkan gagasan ini diperlukan riset pendahuluan terhadap kondisi Sumatera Utara. Data sementara menunjukkan bahwa Sumatera Utara memiliki 6.113 wilayah administrasi pemerintahan setingkat desa, terdiri dari 5.418 desa dan  692 kelurahan. Tersebar di 33 kabupaten/kota dengan 455 kecamatan. Pertanyaan selanjutnya adalah berapa guru mengaji kita? Apakah setiap desa sudah memiliki guru mengaji? Seharusnya setiap dusun bahkan setiap masjid harus ada guru mengaji. 

Dengan semangat kolaborasi yang menjadi jargon Gubernur, dengan melibatkan pemerintahan dan kementerian Agama, bahkan melibatkan MUI, ormas Islam, dan tokoh-tokoh agama, maka masalah ini relatif lebih mudah untuk diatasi.

Pesan kedua,  persoalan daerah tidak selamanya dapat diselesaikan dengan pendekatan saintifik. Gubernur menyebut contoh dengan jelas, seperti bencana yang baru saja dialami oleh beberapa daerah termasuk Sumatera Utara menjelang akhir tahun 2025 lalu. Pendekatan ilmu kebencanaan, sosiologi, antropoligi, kesehatan, ekonomi, tetap penting. Namun tidak kalah pentingnya, keterbatasan kemampuan manusia, pertolongan Allah SWT juga tidak dapat diabaikan. Bagaimana mengundang pertolongan Allah SWT ? Jawabnya adalah dengan membaca Al-Qur’an, menghafal Al-Qur’an, mewiridkan Al-Qur’an, tentu saja pada akhirnya membangun interaksi yang intensif dengan Al-Qur’an. Dalam bahasa hadis dikatakan "bersahabat dengan Al-Qur’an." Al-Qur’an atas izin Allah menjadi penolong orang-orang yang bersahabat dengan al-Qur’an. 

Kelanjutan dari gagasan ini, Gubernur menyarankan perlunya pengajian-pengajian massal, membaca Al-Qur’an bersama-sama, berdo’a, mendengar tausiah dan kegiatan ritual lainnya. Momentum ini juga dapat dijadikan sebagai forum bertemunya ulama, umara, dan masyarakat pada umumnya. Kerjasama Babinrohis, LPTQ, Ormas Islam, MUI dan lembaga lainnya, membuat kegiatan ini menjadi mungkin untuk diwujudkan.

Pesan ketiga, sebagaimana informasi ketua harian LPTQ, Ustadz M. Yasir Tanjung, logo dan tema yang disetujui oleh Gubernur Sumatera Utara adalah tema resmi MTQ saat ini: "Satu Irama Tilawah, Satu Tekad dalam Kolaborasi Sumut Berkah".Tema ini tentu saja saja sesuai dengan Visi Besar Gubernur Sumatera Utara. Kata kuncinya adalah kolaborasi. Kolaborasi bisa diberi makna kerjasama, tolong menolong dan saling membantu. Kolaborasi bukan saja menyatukan energi yang terserak tetapi juga melipatgandakannya sehingga melahirkan kekuatan besar untuk melanjutkan pembangunan.

Dalam konteks Sumatera Utara, kata kolaborasi menjadi niscaya karena "nature"-nya adalah wilayah yang sangat plural dari suku, budaya, maupun agama. Sumatera Utara adalah daerah multikultural. Keberagamaan ini jika tidak dikelola dengan baik, tentu dapat menjadi sumber konflik. Tetapi keragaman dapat berubah menjadi kekuatan jika dikelola dengan baik. Dan, jawaban terhadap keragaman Sumatera Utara adalah kolaborasi. 

Dalam bentuknya yang berbeda-beda, setiap agama tentu saja memiliki pesan kolaborasi, tolong menolong, saling membantu, dan kerjasama. Hal ini tentu sangat potensial untuk dimanfaatkan sebagai bentuk kerjasama demi kebaikan bersama dan kemajuan masyarakat Sumatera Utara. Lewat MTQ Sumatera Utara ke 40 ini, pesan kolaborasi itu digaungkan dan diharapkan dapat menembus dinding batin setiap masyarakat Sumatera Utara. Sumatera Utara harus dibangun dengan semangat kolaborasi yang muaranya adalah keadilan, kemakmuran, dan kesejahteraan.

Wa Allahu A’lam bi al-Shawab.

Berbagi

Postingan Terkait

Konfirmasi Penutupan

Apakah anda yakin ingin menutup pemutaran video ini?