Skip to Content
Loading...
lptqsumut
lptqsumut
Online
Assalamu'alaikum Wr. Wb. 👋
Ada yang bisa dibantu?

MTQ Ke-40 Tingkat Provinsi Sumatera Utara: Kerinduan pada Irama Tilawah Al-Qur'an yang Tak Pernah Punah, Perekat Hati Umat Menuju Sumut Berkah

Dr. Tuah Sirait 

Angin petang bertiup perlahan,

Menyapa kuala di tepi lautan;

Merdu tilawah mengalun berkesan,

Menyentuh kalbu membawa keteduhan.

Dari dahulu hingga kini bertahan,

Tak lekang oleh perubahan zaman;

Irama Qur'an tetap dirindukan,

Perekat umat di sepanjang kehidupan.


Kalau tak ada aral melintang, sejarah akan kembali bertambah satu halaman. Pada 16–24 Juni 2026, Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) Ke-40 Tingkat Provinsi Sumatera Utara akan digelar, melanjutkan jejak panjang syiar Al-Qur'an yang telah mengakar di bumi bertuah Sumatera Utara. 

Tuan-Puan pembaca yang budiman, empat puluh kali bukanlah perjalanan yang singkat. Dalam rentang waktu yang sepanjang itu, Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) telah tumbuh menjadi bagian dari nafas kehidupan umat Islam di Sumatera Utara. Karena itu, tidak berlebihan jika saya menilai bahwa MTQ bukan lagi semata-mata sebagai sebuah perlombaan, melainkan juga sebagai peristiwa kebudayaan dan keagamaan yang selalu menemukan tempatnya di tengah masyarakat.

Terlebih lagi, sungguh menawan tatkala MTQ kali ini manajukkan tema “Satu Irama Tilawah, Satu Tekad dalam Kolaborasi Sumut Berkah”.

Dalam khazanah kita, orang-orang tua bijak dulu sering mengata, bahwa irama bukan sekadar bunyi; irama adalah tanda keselarasan. Sebagaimana dayung berkayuh seayun-seirama-selaras agar sampan sampai ke kuala. Demikian pula kehidupan kita dalam bermasyarakat, yang memerlukan kesatuan langkah dan tujuan. Maka ketika tema ini menautkan "satu irama tilawah, satu tekad", yang terbayang bukan hanya kemerduan bacaan Al-Qur'an, melainkan juga harapan agar masyarakat Sumatera Utara dapat bergerak dalam harmoni yang sama menuju kebaikan bersama. Tekad itu lalu bertemu dan berhimpun dalam cita-cita (kolaborasi) menghadirkan keberkahan bagi negeri.

Tentu saja, apa yang saya kemukakan di sini hanyalah sebuah pembacaan sederhana. Masih banyak tokoh, ulama, akademisi, dan cendekiawan yang jauh lebih berkompeten untuk menjelaskan makna tema MTQ Ke-40 Tingkat Provinsi Sumatera Utara tahun ini. Bahkan, Guru Kita Prof. Azhari Akmal Tarigan telah memberikan uraian yang sangat menarik melalui tulisannya berjudul “MTQ Sumut 40: Satu Irama Tilawah, Satu Tekad dalam Kolaborasi Sumut Berkah.” Penjelasan tersebut dapat dibaca dalam berbagai dimensi, mulai dari keagamaan, sosial, budaya, hingga pembangunan daerah.

Namun, tulisan ini tidak bermaksud memasuki wilayah itu secara mendalam. Saya memilih berdiri pada sisi yang lain, yakni sisi yang lebih sederhana dan barangkali lebih dekat dengan pengalaman banyak orang. Saya hanya ingin merawat satu hal yang menurut saya selalu hadir setiap kali MTQ diselenggarakan, yaitu kerinduan kepada irama tilawah Al-Qur'an.

Sependek pengamatan saya, kerinduan itu barangkali tidak lahir hari ini. Ia telah tumbuh sejak lama, bahkan mungkin sejak kita masih kanak-kanak. Pada masa ketika suara mengaji selepas Magrib masih mudah terdengar dari rumah-rumah, surau, dan masjid kampung. Pada masa ketika para orang tua dengan sabar mengajarkan huruf demi huruf Al-Qur'an kepada anak-anak mereka. Dalam suasana seperti itulah irama tilawah perlahan menjadi bagian dari ingatan banyak orang.

Karena itu, setiap kali MTQ diselenggarakan, yang hadir sesungguhnya bukan hanya para peserta, dewan hakim, atau tamu undangan. Hadir pula kenangan yang lama tersimpan dalam benak masyarakat. Ketika seorang qari mulai melantunkan ayat-ayat suci, sering kali yang tergerak bukan hanya pendengaran, tetapi juga ingatan. Ingatan tentang masa lalu, tentang guru-guru mengaji, tentang masjid kampung, dan tentang suasana religiusitas yang pernah membentuk kehidupan kita.

Mungkin karena itulah irama tilawah Al-Qur'an tidak pernah benar-benar punah. Ia terus hidup, berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya. Zaman boleh berubah, tetapi kerinduan untuk mendengar ayat-ayat suci dilantunkan dengan indah tampaknya tetap bertahan. Dan MTQ, dalam perjalanannya yang kini memasuki penyelenggaraan ke-40, menjadi salah satu ruang tempat kerinduan itu terus dipelihara.

Dari MTQ Menuju Sumut Berkah

Kalau kita bersepakat bahwa irama tilawah Al-Qur'an selalu dirindukan, dan kerinduan itu menolak untuk punah oleh alasan apa pun, maka sesungguhnya kita sedang berbicara tentang satu hal yang sama: Al-Qur'an masih memiliki tempat yang istimewa di hati masyarakat. Di tengah begitu banyak perubahan yang datang silih berganti, masih ada sesuatu yang sanggup mempertemukan rasa, ingatan, dan kecintaan banyak orang, yakni lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an.

Barangkali di situlah letak makna terdalam dari MTQ. Ia tidak hanya menghadirkan perlombaan, tetapi juga menghadirkan perjumpaan. Perjumpaan antara manusia dengan Al-Qur'an, antara kenangan masa lalu dengan kenyataan hari ini, dan antara sesama anak bangsa yang dipertemukan oleh kecintaan yang sama terhadap Kalamullah.

Kembali mengingat pesan bijak orang-orang tua kita dulu, bahwa yang jauh dapat didekatkan, yang renggang dapat dirapatkan, apabila masih ada perkara yang sama-sama mestilah dijunjung tinggi.  Bagi umat Islam, Al-Qur'an adalah salah satu perkara itu. Ketika ayat-ayat suci dilantunkan, kita tidak lagi sibuk menghitung perbedaan yang ada. Kita memilih duduk, mendengar, dan menikmati sumber yang sama dari mana nilai-nilai kehidupan itu berasal.

Maka, jika irama tilawah mampu mempertemukan hati dalam arena MTQ, mengapa semangat yang sama tidak kita bawa ke dalam kehidupan yang lebih luas? Bukankah Sumut Berkah yang kita cita-citakan juga berawal dari kemampuan untuk saling memahami, saling menghargai, dan saling menguatkan sebagai sesama warga Sumatera Utara?

Pada titik inilah saya memaknai hubungan antara MTQ dan Sumut Berkah. Keberkahan sebuah daerah tidak semata-mata lahir dari kemajuan yang tampak di hadapan mata, tetapi juga tumbuh dari kualitas hubungan antarmanusia yang hidup di dalamnya. Ketika masyarakat mampu menjaga persaudaraan, menghormati perbedaan, dan menjadikan nilai-nilai kebaikan sebagai pegangan bersama, di situlah keberkahan menemukan jalannya.

Karena itu, Sumut Berkah bukanlah ungkapan yang elok didengar atau semboyan yang indah sebatas diucapkan, melainkan harapan agar nilai-nilai Al-Qur'an yang dilantunkan di arena MTQ turut hadir dalam kehidupan sehari-hari. Tidak berhenti sebagai suara yang merdu didengar, tetapi menjelma menjadi sikap yang santun, perilaku yang adil, dan kepedulian terhadap sesama.

MTQ Ke-40 akan berlalu sebagaimana MTQ-MTQ sebelumnya pernah berlalu. Namun mudah-mudahan satu hal tetap tinggal bersama kita: kerinduan kepada Al-Qur'an yang tidak pernah punah. Sebab selama Al-Qur'an tetap hidup di hati masyarakat, selama itu pula harapan untuk menghadirkan Sumatera Utara yang berkah akan selalu menemukan alasan untuk terus diperjuangkan.

Berbagi

Postingan Terkait

Konfirmasi Penutupan

Apakah anda yakin ingin menutup pemutaran video ini?