- Diposting oleh : Lptq Sumut
- pada tanggal : Juni 27, 2026
Prof Azhari Akmal Tarigan
Baru saja malam penutupan Musabaqah Tilawatil Al-Qur’an (MTQ) ke-40 Provinsi Sumatera Utara, tepatnya tanggal 24 Juni 2026 yang berakhir pada jam kecil tanggal 25 Juni 2026 dini hari, pengurus LPTQ Sumut, Ketua Harian Ustaz Muhammad Yasir Tanjung, S.Pd.I., Ustaz Damri Tambunan, M.Pd., dan Tuan Dahrul Hulu, S.Sos., harus menuju Bandara KNO untuk menempuh penerbangan Medan menuju Semarang. Berkumpul di dalamnya rasa letih yang membuncah. Rasa kantuk yang rasanya tidak tertahankan lagi. Bahkan, untuk menjaga agar tidak ketinggalan pesawat, mereka sengaja berjaga-jaga. Kalaupun tidur, hanyalah tidur-tidur ayam. Saya tak paham istilah ini. Namun, di masyarakat istilah ini populer dipakai untuk mereka yang tertidur sejenak, kemudian terbangun, dan begitulah berulang sampai ia terbangun. Hanya energi Al-Qur’an yang membuat mereka semangat hadir memenuhi undangan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pada acara peluncuran atau launching Logo dan Maskot MTQ Nasional yang akan dilaksanakan di Semarang pada bulan September 2026 mendatang.
Sesungguhnya kehadiran pengurus LPTQ Sumut ke Semarang bukan semata-mata untuk menghadiri peluncuran Logo dan Maskot MTQ. Lebih dari itu, pengurus LPTQ Sumut harus memastikan dan mempersiapkan kebutuhan Kafilah Sumatera Utara di Semarang yang terkenal dengan Simpang Limanya. Dengan jumlah kontingen lebih kurang 90 orang yang terdiri dari peserta untuk semua cabang, pelatih, dan official, pengurus harus memastikan hotel tempat menginap, proses penjemputan, venue atau lokasi acara, dan bagaimana mobilitas peserta agar proses MTQ berjalan lancar. Satu hal yang tidak kalah pentingnya adalah memastikan makanan peserta yang mempertimbangkan dua hal, yaitu selera dan cita rasa Sumatera Utara tetap terjaga serta dimensi kesehatan dan kebugaran peserta.
![]() |
| © LPTQ Sumut |
Bukanlah suatu kebetulan jika kita melihat kembali logo dan tema MTQ Sumatera Utara di Astaka yang baru usai. Tema yang dipilih Bapak Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution adalah “Satu Irama Tilawah, Satu Tekad dalam Kolaborasi Sumut Berkah”. Tema ini menjelaskan bahwa nilai-nilai Al-Qur’an harus dijadikan sebagai titik berangkat atau titik tolak dalam membangun bangsa. Nilai-nilai Al-Qur’an yang selanjutnya diturunkan menjadi ajaran dan pesan yang bersifat universal bukan saja dijadikan sebagai landasan etik dan moral, tetapi dapat dijadikan sebagai pedoman untuk menciptakan harmoni dan kedamaian di negara yang plural dari sisi suku, agama, dan ras. Al-Qur’an dapat membingkai keragaman sebagai kekuatan besar untuk kebaikan bersama dan bukan sebaliknya, keragaman yang melahirkan konflik dan ketegangan. Inilah hakikat pesan Islam sebagai Rahmatan li Al-‘Alamin.
Kolaborasi yang menjadi kata kunci pembangunan di Sumatera Utara menjadi niscaya karena keragamannya. Sumatera Utara sah menyebut dirinya sebagai miniatur nusantara sebagaimana Jawa Tengah juga berhak menyebut dirinya sebagai miniatur Indonesia. Karena di manapun kita berada, kita tetap menjadi Indonesia. Kolaborasi dengan memadukan semua kekuatan yang ada dan menyelaraskannya dalam satu tekad dan irama langkah pembangunan Sumatera Utara yang berkelanjutan. Dalam kalimat yang bertenaga, kolaborasi akan melahirkan sejuta energi. Harmoni membuat Jawa Tengah yang dihuni lebih kurang 30 juta penduduk tetap damai dan menyejukkan bagi seluruh anak bangsa.
Ada keinginan kuat pada anak bangsa untuk menggali kembali pesan moral Al-Qur’an untuk kebaikan bangsa. Al-Qur’an bukan hanya kitab yang berisi ibadah dan hukum. Tetapi, di dalamnya ada kisah yang mengandung pesan universal. Ada isyarat ilmiah yang dapat dieksplorasi dan dikembangkan menjadi temuan sains dan teknologi. Bahkan, di dalam Al-Qur’an nilai tertingginya adalah tauhid yang kemudian diturunkan menjadi penjagaan terhadap martabat dan kemuliaan manusia (karamat al-insaniyyah) yang bersifat mutlak. Pesan-pesan itulah yang harus selalu disuarakan. Salah satunya, dan menjadi momentum terbaik, adalah melalui Musabaqah Tilawatil Al-Qur’an. Sebagai perayaan kolektif nasional terbesar, seperti dinyatakan Menteri Agama, musabaqah bukan sebatas musabaqah atau festival. Di dalamnya terkandung pesan untuk mengaktualkan nilai universal Al-Qur’an dalam kehidupan seperti persaudaraan, keadilan, persamaan, dan lainnya. MTQ juga dapat menjadi ajang untuk menampilkan keberagamaan yang sangat kaya dengan semangat toleransi dan kerukunan. Bahkan, MTQ dapat menjadi momentum untuk memperkokoh kembali persatuan dan kesatuan bangsa.
![]() |
| © LPTQ Sumut |
Jika demikian, MTQ bukanlah untuk mencari dan menentukan pemenang. Bukan sebatas mencari juara umum. Provinsi mana yang paling hebat secara nasional. MTQ adalah momentum untuk membumikan Al-Qur’an untuk bangsa. Sebagai manusia yang hidup dalam ruang dan waktu, terkadang kita memerlukan momentum. Perlu penanda yang selalu mengingatkan kita. Bila bangsa ini mulai menjauh atau mengabaikan, dan bukan meninggalkan Al-Qur’an, maka MTQ adalah momentum untuk kembali, setidaknya sebagai pengingat. Pengakuan sebagai bangsa yang ber-Tuhan, bangsa yang menempatkan Sila Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertamanya, itu mengandung arti menjunjung ajaran-ajarannya. Ajaran Al-Qur’an yang parsial seperti ibadah khas buat umat Islam, biarlah dilaksanakan oleh umat Islam dan tidak pernah dipaksakan kepada siapa pun. Namun, nilai-nilai universalnya yang sesungguhnya tidak bisa ditolak oleh siapa pun, mari kita terjemahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Memang sejak awalnya, MTQ didesain untuk bangsa Indonesia. Dengarkan kembali bait-bait Mars MTQ yang selalu dinyanyikan pada saat MTQ, pesannya jelas: Cinta Allah, Cinta Rasul, Cinta Negara. Berpegang pada Pancasila, tentu saja UUD sebagai konstitusi berbangsa. Akhirnya adalah kebaikan bersama anak bangsa, Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur.
Jawa Tengah jauh-jauh hari telah mempersiapkan dirinya sedemikian rupa. Simpang Lima akan menjadi saksi kebangkitan bangsa melalui MTQ. Persiapan telah dilakukan jauh-jauh hari. Mereka juga telah mempersiapkan OPD untuk menjadi LO bagi setiap daerah. Sumatera Utara akan di-handle oleh Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Jawa Tengah. Alhamdulillah, selama ini kita telah ditemani oleh Mas Kevin dan tim. Layanan yang ramah dan bersahabat telah ditampakkan dengan tulus. Moga menjadi amal saleh dan Insya Allah MTQ September mendatang berjalan sukses.
Penulis merupakan Pengurus LPTQ Provinsi Sumatera Utara.

.jpeg)