Skip to Content
Loading...
lptqsumut
lptqsumut
Online
Assalamu'alaikum Wr. Wb. 👋
Ada yang bisa dibantu?

Apa dan Bagaimana Musabaqah Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an (KTIQ)?

Prof. Azhari Akmal Tarigan

Kita patut bergembira ketika cabang musabaqah Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an (KTIQ) telah diperlombakan sejak tingkat kabupaten/kota, provinsi, dan kemudian secara nasional beberapa tahun lalu. Bergembira karena inilah cabang yang diharapkan dapat mengungkap sisi sains Al-Qur’an. Para penstudi Al-Qur’an sepakat bahwa Al-Qur’an bukanlah kitab ilmiah seperti buku-buku sains lainnya, tetapi Al-Qur’an adalah sumber ilmu pengetahuan. Di dalamnya banyak isyarat ilmiah, bahkan lebih banyak daripada ayat-ayat hukum (fikih). Al-Qur’an menginspirasi para ilmuwan untuk meneliti dan menggali isyarat-isyarat ilmiah Al-Qur’an. Lewat cabang ini, diharapkan generasi muda Islam, khususnya mereka yang berusia maksimal 24 tahun (sesuai dengan pedoman), tertarik untuk mengkaji sisi ilmiah Al-Qur’an dan menuangkannya dalam bentuk tulisan ilmiah (populer). Selanjutnya, karya-karya ilmiah itu diperlombakan dengan tawaran hadiah yang menarik.

Saya berandai-andai, jika setiap generasi muda Islam, khususnya para mahasiswa yang duduk di semester 4–12, tertarik menggali kandungan ilmiah Al-Qur’an, saya yakin sekali Islam dan ilmu pengetahuan akan berkembang dengan pesat. Mereka juga mengkaji dan membahas riset-riset ilmiah Al-Qur’an yang dilahirkan para sarjana ternama, dan tidak tertutup kemungkinan mereka juga dapat melakukan riset sendiri secara mandiri tentang isyarat sains Al-Qur’an. Dipastikan akan lahir ilmuwan-ilmuwan Islam sekaliber Prof. Abdus Salam (Pemenang Nobel Fisika). Kita akan kembali memiliki ilmuwan besar dunia, seperti Ibn Sina, Al-Khawarizmi, Ibn Rusyd, Al-Jabbar, Ibn al-Haytham, dan Ibn Khaldun. Sungguh kita sesungguhnya merindukan lahirnya ilmuwan muslim tangguh.

Sinar terang itu mulai muncul sejak KTIQ mulai diperlombakan. Khusus MTQ Sumatera Utara ke-40, cabang ini juga diperlombakan. Sebelumnya, di kabupaten/kota cabang ini juga diikuti dan diminati banyak peserta. Melihat jumlah kabupaten/kota di Sumatera Utara, memang belum semua daerah tingkat dua mengirimkan pesertanya pada MTQ Sumut ke-40 Tahun 2026. Namun, lebih dari 50%, kabupaten/kota telah mengutus calon-calon ilmuwan terbaiknya. Insya Allah, pada masa mendatang sebarannya akan semakin merata.Berbeda dengan Musabaqah cabang Tilawah dan Tahfiz, Syarhil atau Fahmil Al-Qur’an tidak semua orang dapat memahami dengan baik hakikat dari KTIQ. Cabang ini sesungguhnya memiliki kekhasannya sendiri sebagaimana terkandung pada makna kata “Ilmiah Al-Qur’an”. kata “Karya Tulis” itu istilah yang biasa kita dengar. Namun pada saat dirangkaikan dengan “Ilmiah Al-Qur’an”, maknanya berbeda. Oleh sebab itu, dalam penjelasan yang sederhana, KTIQ adalah cabang musabaqah yang bertujuan untuk melihat kemampuan calon-calon ilmuwan muda muslim, intelektual-intelektual muda, akademisi-akademisi pemula dalam menggali dan mengeksplorasi kandungan ilmiah Al-Qur’an yang selanjutnya dituangkan dalam karya tulis ilmiah populer. 

Dikatakan populer karena memang tidak mungkin dalam waktu 8 jam (08.00–17.00 WIB) seorang peserta dapat menulis artikel atau makalahnya sebanyak 10–15 halaman. Tantangan terberatnya adalah bagaimana menghubungkan fakta, realitas empirik, dan data-data akurat dengan pesan Al-Qur’an. Bagaimana mengonseptualisasikan nilai Al-Qur’an dan bagaimana pula memformulasikan jalan keluar yang ditawarkan Al-Qur’an. Delapan jam terlalu sedikit untuk masalah besar. Kita tentu memiliki pengalaman menulis makalah ilmiah di ruang kelas yang membutuhkan waktu berminggu-minggu. Belum lagi jika hendak menulis skripsi, tesis, bahkan disertasi. Namun, untuk menulis artikel ilmiah populer, 8 jam cukup memadai. Itulah sebabnya sebelum musabaqah, biasanya 3 bulan atau setelah keluarnya Juknis Musabaqah dari LPTQ Pusat, peserta sudah mendapatkan tema besar yang akan dimusabaqahkan. Untuk tahun ini, dua tema besar itu adalah masalah lingkungan, ekoteologi, serta kerukunan dan moderasi.

Sebelum musabaqah, waktu yang tersedia itulah yang dipakai oleh calon peserta KTIQ untuk membaca referensi, buku-buku, jurnal terkait, dan sumber lainnya yang relevan. Mereka pun berlatih untuk menulis, mengedit sendiri, memperbaiki tulisan, berkonsultasi dengan pakar, dan selanjutnya kembali menulis sampai menemukan pola dan bentuk yang standar.

Dalam masa yang tersedia itulah, peserta berlatih menyusun latar belakang yang menjadi gap (kesenjangan akademik). Ia membaca data yang ada, menganalisis fakta, dan mencari sumber masalah. Lalu, bagaimana informasi Al-Qur’an tentang isu-isu tersebut? Ia harus mampu menangkap semangat Al-Qur’an tentang permasalahan yang ada. Tentu Al-Qur’an tidak memiliki jawaban yang rinci tentang bagaimana Generasi Z, konten media sosial, lalu kaitannya dengan kerukunan umat beragama. Sama halnya, Al-Qur’an tidak akan memiliki informasi tentang bagaimana sampah rumah tangga muslim kaitannya dengan pencemaran lingkungan, penyakit menular, dan seterusnya. Hanya saja, Al-Qur’an memiliki jawaban berupa nilai dan moral serta dapat memandu umat untuk mengatasi masalah kehidupannya. Inilah makna dari fungsi Al-Qur’an sebagai bayyinat (penjelas), hudan (petunjuk), dan furqan (pembeda).

Dengan demikian, musabaqah KTIQ hakikatnya tidak lain adalah rewriting (menulis kembali), membaca kembali, dan merumuskan kembali gagasan besar yang hendak disampaikan peserta. Jika ada peserta KTIQ yang datang ke arena musabaqah dengan persiapan yang tidak matang, dipastikan ia akan mengalami kesulitan yang besar. Dipastikan gagal. Sering kali ketidaksiapan inilah yang memunculkan pelanggaran terhadap etika akademik, seperti tindakan plagiasi yang notabene melanggar kaidah ilmiah itu sendiri. Dalam dunia ilmiah ada kaidah bahwa ilmuwan bisa salah dan itu wajar saja, namun ia tidak boleh bohong. Salah bukan aib, apalagi meruntuhkan harga dirinya. Justru ilmuwan, atau paling tidak calon akademisi, harus berani berkata tentang apa yang ia tahu dan berani menyatakan bahwa apa yang ia tidak tahu. Namun sebaliknya, calon akademisi yang sejak awal sudah berani melanggar etika tidak saja mengingkari integritas dirinya, tetapi juga kebohongannya dapat membahayakan masyarakat.

Harus dicatat, KTIQ itu musabaqah atau perlombaan, bukan kegiatan intelektual yang bersifat pribadi. Ada hakim yang akan menilai. Peserta harus siap secara intelektual dan siap diuji, sama dengan siap secara mental dan spiritual. Kejujuran dalam menulis itu harus diuji. Tidak ada kejujuran tanpa ujian. Dalam konteks KTIQ, kejujuran semakin penting karena peserta sedang mengeksplorasi ayat-ayat Al-Qur’an. Harus ada rasa malu kepada Allah; kita mengkaji ayat-Nya, tetapi berbohong atau melakukan trik-trik licik. Menjadi juara KTIQ bukanlah tujuan. Kemenangan peserta KTIQ adalah pada saat ia mampu menyajikan dan mengelaborasi pesan ilmiah Al-Qur’an, seperti lingkungan hidup dan kerukunan umat beragama sebagaimana tema tahun ini.

Sebagai orang yang mencintai dunia tulis-menulis dan dunia ilmu, saya sangat berharap kepada peserta KTIQ. Anda semua sudah menang walaupun belum tentu menjadi juara. Menang itu ketika Anda memperlakukan Al-Qur’an secara khusus, sesuatu yang tidak semua orang bisa melakukannya. Teruslah berlatih. Teruslah menulis. Mulailah mempublikasikan tulisan atau artikel sederhana di media sosial maupun media massa atau media daring. Anda harus menjadi penulis yang sesungguhnya, bukan penulis musiman, yaitu ketika musim MTQ hadir. Dengan demikian, juara KTIQ hanya ada pada saat MTQ. Namun, pemenang KTIQ akan selalu hadir pada saat ia memproduksi gagasan dan pemikirannya ke dalam bentuk tulisan yang dipublikasikan.

Selamat dan sukses buat semua.

Berbagi

Postingan Terkait

Konfirmasi Penutupan

Apakah anda yakin ingin menutup pemutaran video ini?